Meresahkan! Begini Modus-modus Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok

Herdi Alif Al Hikam – detikFinance

Jakarta – Masalah pungutan liar kembali menjadi heboh, kali ini masalah pungli langsung menjadi atensi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal itu terjadi usai Jokowi mendapat laporan banyaknya pungli di pelabuhan Tanjung Priok oleh para sopir truk.

Agung Bangkit salah satu sopir truk yang ngadu ke Jokowi soal pungli ini menceritakan bagaimana modus-modus pungli terjadi di pelabuhan Tanjung Priok. Mulai dari kendaraan masuk ke pelabuhan hingga keluar pelabuhan, pungli berbagai modus harus dihadapi para sopir truk.

Agung bercerita, misalnya saja sebuah truk melakukan pekerjaan pengambilan barang dan kontainer ke pelabuhan, di gerbang masuk saja pungli bisa langsung ditemui para sopir truk. Saat melakukan scanning barcode untuk pendataan truk masuk ke pelabuhan biasanya sopir truk harus membayar kepada petugas di gerbang masuk.

“Untuk pos pertama itu di-scanning itu nanti akan sopir masuk dia akan melakukan gate in namanya, data akan diinput petugasnya lalu dia (truk) akan memasuki pelabuhan. Petugas itu kadang ada juga (yang pungli), itu kecil, itu paling Rp 2 ribuan minimal,” papar Agung dalam acara d’Rooftalk detikcom.

“Kemudian mobil masuk, ketika nge-tap di mesinnya itu akan muncul lokasi alamat yang mau diambil barangnya,” lanjutnya.

Apabila tidak memberikan uang pungli, Agung mengatakan kesulitan akan didapati sopir truk untuk masuk ke pelabuhan. Alamat kontainer yang mau diambil tidak akan muncul, alasannya mesin error. Maka sopir truk wajib mendatangi ruang kontrol dan mengurusnya.

“Cukup memakan waktu di sana, kalau kita mau lancar ya dikasih dulu itu,” ungkap Agung.

Lanjut ke tahap pengambilan kontainer, setelah mendapatkan alamat kontainer yang mau dibawa, sopir truk akan mendatanginya. Nah, praktik nakal pungli kembali lagi terjadi, menurutnya operator crane kontainer harus kebagian jatah juga, kalau tidak diberikan dijamin pengurusannya akan lama.

“Ada juga (pungli) dari operator, itu kadang-kadang nggak ngasih itu agak lama juga ngerjainnya,” ungkap Agung.

Cara penarikannya pun beragam, salah satunya seperti video yang sempat viral. Petugas operator crane yang berada di atas kemudi crane akan menurunkan kantong plastik untuk menerima pungli dari sopir truk.

Besarannya sebetulnya tidak banyak, menurutnya yang penting ada uang saja yang masuk ke dalam plastik pengumpul uang. Setelah diberikan uang, baru proses pengambilan kontainer bisa berjalan.

“Kalau dia (sopir truk) nggak jeli mungkin banyak, yang penting itu ngasih aja. Kalau udah kelihatan dikasih di situ dia akan jalan,” kata Agung.

Setelah barang dan kontainer selesai diambil, maka kendaraan akan ke luar dari pelabuhan, sebelum itu ada proses gate out di gerbang ke luar. Nah di sini praktik pungli kembali terjadi, modusnya persis seperti di gerbang masuk. Tak ada jatah buat petugasnya, truk tak bisa lewat.

“Setelah proses muat barang kita akan keluar, setelah keluar kita lakukan proses sama itu di gate out. Akan ada petugas yang input data kontainer sudah muat dan siap keluar pelabuhan. Petugasnya kita juga sering kasih, kalau nggak ngasih, ada masalah kayak di gate in,” ungkap Agung.

Akhirnya sopir truk hanya tinggal membawa barang dan kontainer ke depo, tapi tunggu dulu masalah pungli belum kelar. Di jalan menuju depo, sopir truk masih juga harus memberikan uang pungutan liar.

Di luar pelabuhan praktik pungli berubah lebih ekstrim alias palak memalak, tak jarang pemerasan pun dilakukan. Apalagi kalau jalan macet di sekitar pelabuhan. Permintaannya juga beragam, rokok hingga uang. Minimal bila minta uang, Rp 5.000 harus diberikan.

“Ketika macet, biasanya ada kelompk orang sengaja minta, uang lah, rokok lah, apa lah. Itu yang kami anggap penyakit masyarakat juga, sulit sekali dihilangkan,” kata Agung.

Tindak palak memalak ini juga tak jarang dibumbui kekerasan, mulai dari dilempari batu hingga ada juga sopir yang dilukai dengan senjata tajam.

“Malah dulu itu ada titik rawan itu sampai ada yang dilukai sajam juga ada, dipukul pakai alat juga pernah ada,” beber Agung.

Menurut Agung, beban yang dipikul oleh sopir truk karena pungli ini cukup berat. Pasalnya, rata-rata 10-20% ongkos jalan para sopir harus disiapkan buat pungli, padahal hanya dari ongkos jalan itu lah pendapatan para sopir. Gaji bulanan tidak ada sama sekali.

“Misal dari ongkos Rp 500 ribu, dia akan beli solar, kemudian uang tol, kemudian makan. Mungkin dari Rp 500 ribu sekitar 10-20% uang untuk pungli,” jelas Agung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *